Showing posts with label DEFINISI. Show all posts
Showing posts with label DEFINISI. Show all posts

Saturday, March 19, 2016

JENIS-JENIS BILANGAN: ASLI REAL, CACAH, BULAT DAN PECAHAN

JENIS-JENIS BILANGAN: ASLI REAL, CACAH, BULAT DAN PECAHAN - Dalam pembelajaran matematika SD, kita mengenal beberapa contoh bilangan, yaitu:

1. Bilangan Asli atau Bilangan Real

Bilangan Asli atau Bilangan Real dimulai dari angka 1, 2, 3, 4, 5, ... tak terhingga. Lalu, di dalam bilangan Asli, dikenal beberapa jenis bilangan lagi, yaitu:

a. Bilangan Ganjil: 1, 3, 5, 7, 9, ... dst
b. Bilangan Genap : 2, 4, 6, 8, 10, 12, ... dst
c. Bilangan Prima : 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, ... dst


2. Bilangan Cacah

Bilangan Cacah adalah bilangan yang dimulai dengan angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, ... dst.

3. Bilangan Bulat

Ada tiga jenis bilangan bulat, yaitu:

a. Bilangan Bulat Positif : 1, 2, 3, 4, 5, ... dst
b. Bilangan Bulat 0
c. Bilangan bulat negatif : -1, -2, -3, -4, -5 .... dst

Sehingga keseluruhan bilangan bulat dapat ditulis seperti berikut ini:

tak terhingga ..........-4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4, 5, ............. tak terhingga

4. Pecahan

Namanya saja pecahan berarti bilangan yang terpecah, tidak utuh. Pecahan terbagi menjadi beberapa macam atau bentuk, diantaranya adalah:

a. Pecahan Biasa : 1/2, 2/5, 5/12 ... dst
b. Pecahan Campuran: 1 1/2, 2 4/7, 102 5/13 ... dst
c. Pecahan Desimal :
   contoh: 0,4 ; 12,04 ; 3,125 ; 0,0012 ... dst
d. Persen : 12 %, 50 %, 12,5 %, 140 % ... dst
e. Perseribu : 15 %0 , 390
%0 ... dst

Itulah beberapa hal yang perlu kita ketahui dalam dunia matematika terkait dengan berbagai jenis Bilangan dan pecahan. Sebenarnya masih banyak lagi, tergantung dari sudut mana kita melihat bilangan tersebut, misalnya:

bilangan kuadrat: 1, 4, 9, 16, 25, 36, ... dst.


Semoga bermanfaat... by PeaChock

Thursday, February 11, 2016

Definisi Pengertian Synesthesia | Semantic Changes in Meaning: Synesthesia

Well, postingan kali ini masih seputar pembahasan linguistik, yaitu Perubahan Makna; Synesthesia. 
A. Definition of SYnesthesia
Synesthesia is the use of word whose meaning glide from the literal sense to the more mentalist one. Its meaning has changed from literal meaning glides to another meaning due to the change of sense. For example, “her sound is very soft”. In this sentence, the word sound related to the sense of hearing while the word soft related to the sense of touching. Although the sentence uses two words in contrast (senses), but we can catch its meaning easily. So we then can call the sentence above gets changes in meaning, that is Synesthesia.

Synesthesia adalah penggunakan kata yang maknanya bergulir dari indera yang satu ke indera yang lainnya. Misalnya kata yang pertama mengindikasikan indera penciuman tetapi kata yang melengkapinya diambil dari apa yang dapat dirasakan oleh indera lainnya.

Synesthesia paling banyak kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari namun kadang kita tidak menyadarinya.

B. Contoh Bahasa Indonesia:

* Baunya sedap.

Bau berkaitan dengan indera penciuman, sedangkan sedap berasosiasi dengan indera perasa. Dalam hal ini, frasa di atas mengalami Synesthesia. Dari indera penciuman bergulir ke indera perasa, namun maknanya dapat kita pahami dengan mudah.

* Suaranya terang sekali (his voice was very bright)

Suaranya (voice) : Indera pendengaran (sense of hearing)

Terang (bright) : Indera penglihatan (sense of view)



* Rupanya manis

Rupanya : indera penglihatan (sense of view)

Manis : indera perasa (sense of taste)



Contoh bahasa Indonesia yang lain:

* Senyumnya manis (indera penglihatan ke indera perasa)

* Kata-katanya kasar (indera pendengaran ke indera peraba)

C. Examples in English

1. Look at that, it is a sweet car I ever seen, isn’t it?


The word look related to the sense of view while the word sweet related to the sense of taste, from the sense of view glides to the sense of taste.

 
2. It was a beautiful song I ever heard before


The word beautiful related to the sense of view while the word song and heard related to the sense of hearing, from the sense of view glides to the sense of hearing.

Masih banyak contoh-contoh konkrit yang bisa kita temukan sehari-hari yang tanpa kita sadari, kita sudah menggunakannya. Selamat menganalisa sekitar kita ... dan terima kasih sudah membaca artikel Definisi Pengertian Synesthesia | Semantic Changes in Meaning: Synesthesia ini. 

Baca Juga:
1. Perluasan dan Penyempitan Makna
2. Sinestesia
3. Pergantian Makna (Displaced)  
4. Peyorasi dan Ameliorasi

Wednesday, June 5, 2013

Pengertian Komunikasi Secara Etimologis dan Terminologis Menurut Para Ahli

Pengertian Komunikasi Secara Etimologis dan Terminologis Menurut Para Ahli -  Berikut ini akan dipaparkan mengenai Pengertian atau Definisi Komunikasi baik Secara Etimologis maupun secara Terminologis dan juga pengertian Komunikasi Menurut Para Ahli.

A. Pengertian Komunikasi Secara Etimologis 

Komunikasi secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna. Jadi, Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.

B. Pengertian Komunikasi Secara Terminologis Menurut Para Ahli

Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. 

Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu:
Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another. 
Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.

Untuk memahami pengertian komunikasi tersebut sehingga dapat dilancarkan secara efektif dalam Effendy(1994:10) bahwa para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: 

Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?

Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,yaitu:
  1.     Komunikator (siapa yang mengatakan?)
  2.     Pesan (mengatakan apa?)
  3.     Media (melalui saluran/ channel/media apa?)
  4.     Komunikan (kepada siapa?)
  5.     Efek (dengan dampak/efek apa?).

Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu.

C. Pendapat Lain Para Ahli Tentang Komunikasi

Menurut Onong Uchjana Effendy, Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media).

Menurut Raymond Ross, Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator.

Menurut Gerald R. Miller, Komunikasi terjadi saat satu sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan niat sadar untuk memengaruhi perilaku mereka.

Menurut Everett M. Rogers, Komunikasi adalah proses suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada satu atau banyak penerima dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.

Menurut Carl I. Hovland, Komunikasi adalah suatu proses yang memungkinkan seseorang menyampaikan rangsangan (biasanya dengan menggunakan lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain.

Menurut New Comb, Komunikasi adalah transmisi informasi yang terdiri dari rangsangan diskriminatif dari sumber kepada penerima.

Menurut Bernard Barelson & Garry A. Steiner, Komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka, dsb.

Menurut Colin Cherry, Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.

Menurut William J. Seller, William J.Seller mengatakan bahwa komunikasi adalah proses dimana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti.

Jadi, dari pendapat-pendapat di atas, kami berani mengambil kesimpulan bahwa Komunikasi itu adalah proses mentransfer pesan dalam bentuk lambang atau simbol, gerakan dan suara oleh si pengirim yang diterima dan diberi makna oleh si penerima.

RANCANGAN PENELITIAN PRA-EKSPERIMENTAL, EKSPERIMENTAL SEMU DAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN


1. Penelitian Pra-Eksperimental atau Pre-Experiment
2. Penelitian Eksperimental Semu atau Quasy Experiment 
3. Penelitian Eksperimental Sungguhan (sebenarnya) atau True Experiment

Berikut adalah rancangan-rancangan penelitian dalam tiap-tiap atau jenis-jenis penelitian eksperimen.

1. Penelitian Pra-Eksperimental atau Pre-Experiment

Rancangan penelitian yang tergolong dalam Pra-Eksperimental atau Pre-Experimental adalah sebagai berikut: 

a). The One Shot Case Study 

X ====> T2

Ket:
X = Treatment
T2 = Post Test

b). One Group Pretest-Posttest Design

T1 ====> X ====> T2

Ket:
T1 = Pretest
X  = Treatment
T2 = Posttest

c). The Static Group Comparison: Randomized Control Group Only Design

Experimental Group (R)     X    ====> T2
COntrol Group         (R)                      T2

Ket:
X  = Treatment
T2 = Posttest
Tidak ada pretest

2. Penelitian Eksperimental Semu atau Quasy Experiment

Rancangan penelitian yang tergolong dalam Penelitian Eksperimental Semu atau Quasy Experiment  adalah sebagai berikut: 

a). The Time series Design
b). The Equivalent Time Samples Design
c). The Equivalent Materials Design
d). The Non-Equivalent Control Group Design
e). Counterbalanced Design
f). The Separate-Sample Pretest-Posttest Design
g). The Separate-Sample Pretest-Posttest Control Group Design
h). The Multiple Time Series Design
i). The Recurrent Institutional Cycle Design : A "Patchup" Design
j). Regression-Discontinuity Design
k). Correlational And Ex Post Faxto Design


3. Penelitian Eksperimental Sungguhan (sebenarnya) atau True Experiment

Rancangan penelitian yang tergolong dalam Penelitian Eksperimental Sungguhan (sebenarnya) atau True Experiment  adalah sebagai berikut:

a). Randomized Control Group Pretest-Posttest Design
b). Randomized Solomon Four Group Design

Pengertian Definisi Penelitian Historis (Historical Research) | Tujuan dan Ciri-Ciri

Artikel  ini tentang Penelitian Historis
A. Tujuan Penelitian Historis (Historical Research)

Tujuan penelitian historis adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, denganc ara mengumpulkan, mengevaluasi, menverikasi, serta mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.

B.  Definisi Pengertian Penelitian Historis (Historical Research)

Penelitian historis (historical research) adalah penelitian yang dimaksudkan untuk merekonstruksi kondisi masa lampau secara objektif, sistematik, dan akurat. Melalui penelitian ini, bukti-bukti dikumpulkan, dievaluasi, dianalisis, dan disintesiskan. Selanjutnya, dirumuskan kesimpulan berdasarkan bukti-bukti itu. Adakalanya penelitian historis digunakan untuk menguji hipotesis tertentu. Misalnya, hipotesis mengenai dugaan adanya kesamaan antara sejarah perkembangan keperawatan dari satu negara yang mengalami hegemoni penjajah yang sama.


C. Ciri-Ciri Penelitian Historis (Historical Research)

Setiap penelitian memiliki ciri-ciri dasarnya tersendiri, begitupun dengan  Penelitian Historis (Historical Research). Berikut ini adalah ciri-ciri  Penelitian Historis (Historical Research) yang diuraikan oleh Suryabrata (2008) dalam bukunya yang berjudul "Metodologi Penelitian".

  1. Penelitian historis lebih tergantung kepada data yang diobservasi orang lain darpada yang diobservasi oleh sang peneliti sendiri.
  2. Penelitian Historis (Historical Research) haruslah tertib-ketat, sistematis dan tuntas, bukan sebuah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliabel dan berat sebelah.
  3. Penelitian Historis (Historical Research) tergantung pada dua macam data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari sumber primer, yaitu si peneliti secara langsung melakukan observasi atau penyaksian kejadian-kejadian yang dituliskan. Data sekunder diperoleh dari sumber sekunder, yaitu peneliti melaporkan hasil observasi orang lain yang satu kali atau lebih lepas dari kejadian aslinya. Dari kedua data tersebut, data primerlah yang dipandang memiliki otoritas sebagai bukti tangan pertama dan diberikan prioritas dalam pengumpulan datanya.
  4. Dalam menentukan bobot data biasa dilakukan dua macam kritik, yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal menanyakan "Apakah dokumen relik atau otentik" sedangkan kritik internal menanyakan "apabila data itu otentik, apakah data tersebut akurat dan relevan?".
  5. Cara pendekatan Penelitian Historis (Historical Research) adalah lebih tuntas, mencari sumber informasi dari sumber yang lebih luas.
Itulah beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang Penelitian Historis (Historical Research), semoga bermanfaat.
Reference:
Suryabrata, Sumadi. 2008. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 
Thx sudah berkunjung, by Peacock

Thursday, May 23, 2013

Pengertian Definisi Media Nyata Realia, Bentuk, Karakteristik dan Pemilihan Media Realia

Pengertian Definisi Media Nyata Realia, Bentuk, Karakteristik dan Pemilihan Media Realia | A.     Pengertian Media Nyata (Realia)

Sering kali ketika kita mau membahas cara belajar di bangku sekolah dasar, kita dihadapkan pada pernyataan bahwa anak-anak usia SD harusnya dididik menggunakan benda-benda realia, bukan abstrak. Nah, benda Realia itu sendiri apa? Benda nyata atau Realia (real thing) merupakan alat bantu yang paling mudah penggunaannya, karena kita tidak perlu membuat persiapan selain langsung menggunakannya. Yang dimaksud dengan benda nyata sebagai media adalah alat penyampaian informasi yang berupa benda atau obyek yang sebenarnya atau asli dan tidak mengalami perubahan yang berarti.

Sebagai obyek nyata, realia merupakan alat bantu yang bisa memberikan pengalaman langsung kepada pengguna. Oleh karena itu, realia banyak digunakan dalam proses belajar mengajar sebagai alat bantu memperkenalkan subjek baru. Realia mampu memberikan arti nyata kepada hal-hal yang sebelumnya hanya digambarkan secara abstrak yaitu dengan kata-kata atau hanya visual

B.     Bentuk Realia

Bentuk realia sama dengan benda sebenarnya yang tidak mengalami perubahan sama sekali dan dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran. Akan tetapi, kesulitan kadang timbul dalam menghadirkan realia secara utuh yang disebabkan oleh ukuran yang terlalu besar atau sulit ditemukan di lingkuangan sekitar. Oleh karena itu, beberapa modifikasi seringkali harus dilakukan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memodifikasi benda nyata untuk keperluan pembelajaran:
  • Dengan cara memotong bagian tertentu dari realia jika berukuran terlalu besar. Dalam memotong realia perhatikan agar bagian yang dipotong tidak merusak benda tersebut sebagai media yang dapat dipelajari oleh siswa.
  • Dengan cara mengawetkan realia hidup jika benda tersebut berbahaya atau lekas rusak jika digunakan dalam kelas, misalnya penggunaan satwa atau tumbuhan sebagai media pembelajaran. Satwa yang berbahaya perlu ditempatkan di tempat tertentu atau diawetkan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai sarana observasi oleh siswa.
  • Dengan menampilkan beberapa jenis  realia secara bersama-sama, ditambah dengan informasi tercetak yang kesemuanya yang dapat menggambarkan suatu topik tertentu. Cara ini disebut juga dengan istilah eksibisi atau pameran realia.

C. Karakteristik Realia

Dalam dunia pendidikan, realia sering dianggap sebagai media informasi yang paling mudah diaskes dan menarik. Sebagai media informasi, realia mampu menjelaskan hal-hal yang abstrak dengan hanya sedikit atau tanpa keterangan verbal. Dengan berinteraksi langsung dengan realia, diharapkan hal-hal yang kurang jelas, apabila diterangkan secara verbal akan menjadi jelas. Realia memiliki kemampuan untuk merangsang imajinasi pengguna dengan membawa kehidupan di dunia nyata ke dalam perpustakaan ataupun ke dalam kelas.

Realia akan sangat membantu apabila digunakan dalam suatu proses memperoleh informasi dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman sendiri atau sering disebut sebagai tujuan kognitif. Dalam proses ini, realia dilibatkan sebagai suatu obyek nyata yang belum dikenal dan para pengguna akan belajar untuk mengenalnya. Realia dapat memberikan pengguna pengalaman langsung dan nyata; pengalaman keindahan yang tidak bisa didapat melalui media lain.

Untuk memungkinkan suatu realia ditampilkan dalam suatu ruangan kadang sangat sulit karena ukuran yang terlalu besar (contoh: lokomotif, pesawat, mobil), atau terlalu kecil (contoh: kuman) atau memang tidak memungkinkan untuk ditampilkan (contoh: bulan). Kadangkala menghadirkan realia dapat berbahaya misalnya menampilkan ular. Cara mengatasinya dapat menggunakan ular mati yang telah diawetkan agar pengguna bisa mengamati dengan aman. Dengan jalan ini, pengguna masih merasakan pengalaman langsung.

Sebagai media pembelajaran, realia memiliki potensi untuk digunakan dalam berbagai topik mata pelajaran. Realia mampu meemberikan pengalaman belajar langsung (Hands on Experience) bagi siswa. Dengan menggunakan benda nyata sebagai media, siswa dapat menggunakan berbagai indera untuk mempelajari suatu objek. Siswa dapat melihat, meraba, mencium, bahkan merasakan objek yang tengah dipelajari. Dalam menggunakan realia, pengguna dituntut kemampuannya menginterpretasikan hubungan-hubungan tentang benda yang sesungguhnya.

Selain memiliki potensi sebagai media pembelajaran, realia juga memiliki keterbatasan. Salah satu keterbatasan realia adalah adanya kemungkinan siswa mempunyai interpretasi yang berbeda terhadap objek yang sedang dipelajari. Kemungkinan lain adalah informasi yang ingin disampaikan akan berbeda sehingga tidak sesuai dengan yang diharapkan.

D. Pemilihan Realia Untuk Pembelajaran

Sebelum memilih realia yang akan digunakan, Anda harus mempertimbangkan kemungkinan realia tersebut akan dipegang oleh siswa. Banyak realia yang sangat rapuh. Oleh karena itu, simpanlah realia yang rapuh dalam kotak pajangan. Idealnya, pengguna harus dapat menyentuh realia untuk mendapatkan pengalaman yang tidak mungkin didapat dari media lain. Kalau memungkinkan, realia tersebut disimpan dalam plastik yang tembus pandang sehingga realia dapat diambil tanpa takut rusak.

Apabila realia dianggap mahal, atau ruangan yang ada tidak memadai, perpustakaan dapat memutuskan untuk tidak memiliki realia dalam koleksinya. Pertanyaan atau permintaan tentang suatu realia dapat dilayani dengan cara mengarahkan pengguna ke tempat lain yang memiliki realia tersebut, misalnya ke kebun binatang untuk melihat binatang-binatang yang tidak mungkin ditampilkan di depan kelas, ke planetarium untuk mengetahui benda-benda ruang angkasa.

Hal lain yang penting diperhatikan dalam menggunakan realia sebagai media pembelajaran adalah :
  1. Berikan kesempatan yang besar agar siswa dapat berinteraksi langsung dengan  benda yang saling dipelajari.
  2. Guru hanya berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mempelajari objek sebagai sumber informasi dan pengetahuan.
  3. Berikan siswa kesempatan untuk mencari informasi sebanyak mungkin yang berkaitan dengan objek yang sedang dipelajari.
  4. Hindari hal-hal yang tidak diinginkan atau risiko yang akan dihadapi siswa pada saat mempelajari realia.

Pengertian Definisi Media Gambar Diam, Karakteristik, Pembuatan dan Pemanfaatan Media Gambar Diam dalam PBM


Sebelum itu, silahkan baca artikel kami tentang Benda Realia atau Media Nyata | Kalau sudah, silahkan lanjut ke media atau gambar dia berikut:


A. Pengertian Gambar Diam

Media yang tergolong sebagai gambar diam adalah foto, bahan-bahan grafis baik yang dicetak ataupun dilukis. Gambar diam dapat berisi informasi atau pengetahuan  tentang objek, peristiwa, atau prosedur. Informasi yang dikemas dalam gambar diam dapat berbentuk diagram, chart, atau grafik. Gambar diam berupa diagram pada umumnya digunakan untuk menjelaskan  konsep-konsep yang menggambarkan komponen-komponen dalam sistem. Chart biasanya digunakan untuk menjelaskan proses atau prosedur dalam bentuk aliran, misalnya flowchart. Sedangkan grafik lazim digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep yang mengupas perbandingan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Gambar diam berbentuk foto dapat digunakan untuk menjelaskan objek dan peristiwa secara realistik.
   
B. Karakteristik Gambar Diam

Gambar diam mempunyai bentuk fisik sebagai bahan dua dimensi dengan ukuran tertentu. Dalam aktivitas pembelajaran, media ini biasanya digunakan untuk mempresentasikan konsep-konsep yang diajarkan kepada siswa. Untuk menjelaskan konsep evolusi dapat digunakan gambar berseri yang berisi perkembangan fisik manusia dari waktu ke waktu yang berjalan sangat lambat.

Gambar diam adalah jenis media yang paling efektif untuk menjelaskan konsep atau pengetahuan yang bersifat abstrak yang sulit dipahami melalui penjelasan verbal. Disamping itu, gambar diam juga sering digunakan untuk memperkuat pembelajaran yang disampaikan secara verbal. Konsep-konsep yang diajarkan dengan menggunakan gambar atau visual biasanya lebih mudah diingat oleh siswa daripada konsep-konsep yang diajarkan secara verbal.

C. Pembuatan/Penyiapan Media Gambar Diam

Untuk membuat media gambar diam diperlukan bidang gambar (kertas karton) dan peralatan gambar seperti pensil, penggaris, dan pewarna. Ada beberapa langkah dalam membuat gambar diam:

  1. menyiapkan peralatan menggambar
  2. membuat desain pesan atu informasi yang akan dimuat dalam media gambar diam. Pesan dan informasi dapat berupa teks, gambar, atau gabungan dari keduanya.
  3. mengubah desain menjadi bahan komprehensif melalui gambar bentuk, teks, dan warna.
  4. mengevaluasi tampilan dan isi pesan atau informasi yang terdapat dalam media gambar diam.
  5. merevisi masukan-masukan hasilk evaluasi tentang tampilan dan isi pesan atau informasi yang terdapat dalam media gambar diam.

D. Pemanfaatan Gambar Diam Dalam PBM (Proses Belajar Mengajar)

Media gambar diam dapat digunakan secara efektif untuk mengajarkan siswa mengenal bentuk objek atau memahami gambaran tentang terjadinya suatu peristiwa, misalnya dalam mata pelajaran biologi dan sejarah. Dalam mata pelajaran biologi, media gam bar diam dapat digunakan untuk mengajarkan anak mengetahui struktur dan komponen suatu objek. Sedangkan dalam mata pelajaran sejarah, media gambar diam digunakan untuk memperlihatkan gambar tokoh atau peristiwa sejarah.

Media gambar diam dapat digunakan untuk menyajikan informasi dan pengetahuan secara serial atau berkesinambungan. Media gambar diam memiliki keuntungan dapat menggambarkan objek dan peristiwa dalam bentuk visual sehingga dapat menghindarkan salah interpretasi dalam memahami pengetahuan yang diajarkan.

Sumber:
http://massofa.wordpress.com

Jangan lupa untuk membaca artikel kami, silahkan baca artikel kami tentang Benda Realia atau Media Nyata