Showing posts with label EKOLOGI. Show all posts
Showing posts with label EKOLOGI. Show all posts

Wednesday, March 9, 2016

Tipe-Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Bentuknya | Fringing Reefs, Barrier Reefs, Atolls dan Patch Reefs

Tipe-Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Bentuknya Fringing Reefs, Barrier Reefs, Atolls dan Patch Reefs - Dalam artikel Ekologi sebelumnya, kita sudah membahas tentang Pengertian atau Definisi dari terumbu Karang dan juga tipe-tipe terumbu karang berdasarkan jenisnya. Nah kali ini kita akan melanjutkan membahas tentang tipe-tipe terumbuh karang berdasarkan bentuknya.

Dilihat dari bentuknya, Terumbu Karang umunya dikelompokkan ke dalam empat bentuk, yaitu :

Terumbu karang tepi (fringing reefs)

 
Terumbu karang tepi yang dalam bahasa Inggris disebut Fringing Reefs merupakan salah satu yang diincar para diver. Terumbu Karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).

Terumbu karang penghalang (barrier reefs)


Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.52 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).

Terumbu karang cincin (atolls)

Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau-pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan.

Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs)

Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta) dan Kepulauan Ujung Batu.

Khusus untuk daerah tempat tinggal saya di kota Tarakan, sangat sulit untuk menemukan terumbu karang karena pulau Tarakan dikelilingi pasir. Namun untuk daerah Pulau Derawan dan sekitarnya, anda akan menjumpai begitu banyak ragam terumbu karang. Selain karena indahnya terumbu karang di sana, juga terdapat spot-spot diving yang akan membuat segala jenis stress bisa hilang. Saya sudah merasakannya loh, agan juga boleh sekali-sekali kesana (tapi kalau sudah ke sana pertama kali, pasti pengen lagi dan lagi). Ajibbbb...| By Peachock

Thursday, June 27, 2013

PROSES-PROSES DAN DAYA YANG MEMENGARUHI DINAMIKA LINGKUNGAN PESISIR/LAUTAN

PROSES-PROSES DAN DAYA YANG MEMENGARUHI DINAMIKA LINGKUNGAN PESISIR/LAUTAN : Ada Empat kelompok faktor yang menjadikan lingkungan kawasan pesisir begitu dinamis :

1. Angin, Gelombang, Pasang surut, Arus dan transport sedimen
 
Kawasan pesisir merupakan lingkungan sangat dinamis, dimana bentuk-bentuk lahan (landforms), seperti garis pantai, pantai berpasir, delta, dan pulau penghalang, terbentuk dan berubah dari waktu ke waktu (over time) mengikuti masukan energi dan material ke dalam lingkungan kawasan pesisir.

Masukan energi berupa : gelombang, pasang surut, dan angin.

Masukan material (sedimen, partikel, dan pollutants) melalui : aliran air sungai, erosi yang diakibatkan oleh angin (wave-induced erosion), pembentukan “landforms” secara biologis (seperti terumbu karang yang dibentuk atas “simbiose mutualisme” antara zooxanthellae dengan hewan karang), dan pre-existing offshore sediment deposit.

Pola sedimentasi (akresi, accretion) dan erosi dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sistem transpor pasir (sedimen) (sediment budget) yang kompleks, yang merupakan akibat (resultante) dari interaksi yang kompleks antar angin, pasang surut, gelombang, dan material (sedimen, pasir, dll).
Karakteristik/kondisi gelombang sangat berpengaruh terhadap pola transport sedimen di pesisir dan ini bervariasi secara musiman.

Salah satu sifat gelombang yang sangat berpengaruh (penting) adalah “ketajaman gelombang” (wave steepness), yaitu : rasio antara tinggi gelombang (wave height) terhadap panjang gelombang (wave length).

Gelombang tajam, biasanya terjadi pada saat angin kencang (musim barat, winter) atau terjadi badai (hurricanes).  Pada saat ini erosi pantai banyak terjadi.  Sebaliknya, pada saat angin tenang (summer), pada umumnya tidak terjadi erosi yang hebat (merusak).


2. Angin Topan dan Badai (hurricanes and Coastal Storms)
  • Badai dan topan merupakan fenomena yang normal di lingkungan pesisir, dan juga faktor utama dalam memodifikasi bentuk lahan (land forms) dan ekosistem pesisir.  Akan tetapi, seiring dengan meningkatnya tekanan kependudukan dan pembangunan di kawasan pesisir, maka bencana alam berupa badai, topan, tsunami, dan lainnya merupakan ancaman berat terhadap penduduk dan kepemilikian (property)
  • Daya (forces) yang menyertai badai dan topan termasuk : gelombang besar dan banjir (surge), aksi gelombang yang meninggi/menguat, dan angin kencang.
  • Banjir akibat badai/topan (storm flooding) dapat mengakibatkan : erosi pantai secara substansial, pengikisan/penghancuran pulau penghalang, dan pemecahan lahan pesisir, sehingga membentuk “inlet”.

3. Peningkatan Paras Laut (sea level rise)
  • Pemanasan global akibat peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (CO, CH4, dll.) dapat meningkatkan paras/permukaan perairan laut (sea level rise), karena dua alasan: (1) ekspansi panas dan (2) Mencairnya es kutub (glacial melting)
  • Meskipun belum ada konsensus bulat di antara masyarakat ilmiah tentang realitas pemanasan global, hampir semua setuju bahwa pemanasan global merupakan fenomena yang nyata.
  • Ketidak-sepakatan di antara ilmuan sebenarnya hanya pada soal laju (rate) dan derajat (degree) dari pemanasan global
  • Prediksi : sebelum akhir abad-21 suhu rata-rata dunia akan meningkat sebesar + 3oC.
  • Perkiraan tentang dampak pemanasan global sangat bervariasi, tetapi kisarannya antara 0,5 – 2 m pada tahun 2100.
  • Dampak :  banjir, kehilangan/keerusakan biodiversity, kerusakan bangunan dan infrastruktur.

4. Siklus hidrologi
  • Perairan pesisir (coastal waters) dipengaruhi oleh interaksi dinamis antara masukan air dari lautan (ocean waters) dan air tawar (freshwater).
  • Aliran air tawar ke laut merupakan fungsi dari : karakteristik Daerah Aliran Sungai (watershed, drainage basin) dan aliran air permukaan (creeks, streams, rivers, etc.) serta aliran air tanah (groundwater).
  • Selanjutnya, neraca air (water budget) tersebut sangat dipengaruhi oleh laju presipitasi dan evapotranspirasi.
  • Presipitasi mempengaruhi air permukaan (surface waters) via “runoff”, dan mempengaruhi air tanah via perkolasi dan infiltrasi (lihat Figure 2.8.  Dalam Beatley, et.al., 1994)
 Sobat BelAjar, demikianlah artikel kami tentang PROSES-PROSES DAN DAYA YANG MEMENGARUHI DINAMIKA LINGKUNGAN PESISIR/LAUTAN, semoga bermanfaat.

    Thursday, May 9, 2013

    Pengertian Definisi Binatang Karang, Terumbu Karang dan Tipe-Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Jenisnya

    Pengertian Definisi Binatang Karang, Terumbu Karang dan Tipe-Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Jenisnya | Binatang karang adalah  pembentuk utama ekosistem terumbu karang. Binatang karang yang berukuran sangat kecil, disebut polip, yang dalam jumlah ribuan membentuk koloni yang dikenal sebagai karang (karang batu atau karang lunak). Dalam peristilahan ‘terumbu karang’, “karang” yang dimaksud adalah  koral, sekelompok  hewan dari ordo  Scleractinia  yang menghasilkan  kapur  sebagai pembentuk utama terumbu, sedangkan Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. 
    Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Di dalam terumbu karang, koral adalah insinyur ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan kapur untuk kerangka tubuhnya,karang merupakan komponen yang terpenting dari ekosistem tersebut. Jadi Terumbu karang (coral reefs) merupakan ekosistem laut tropis yang terdapat di perairan dangkal yang jernih, hangat (lebih dari 22oC), memiliki kadar CaCO3 (Kalsium Karbonat) tinggi, dan komunitasnya didominasi berbagai jenis hewan karang keras.  (Guilcher, 1988).

    Tipe- Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Jenisnya
    Bila dilihat dari jenisnya, terumbu karang dibedakan menjadi dua, yaitu :

    1. Terumbu karang keras
    Terumbu karang keras (seperti brain coral dan elkhorn coral) merupakan karang batu kapur yang keras yang membentuk terumbu karang. Karang batu ini menjadi pembentuk utama ekosistem terumbu karang. Walaupun terlihat sangat kuat dan kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh, mudah hancur dan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.

    2. Terumbu karang lunak
    Terumbu karang lunak (seperti sea fingers dan sea whips) tidak membentuk karang. Terdapat beberapa tipe terumbu karang yaitu terumbu karang yang tumbuh di sepanjang pantai di continental shelf yang biasa disebut sebagai fringing reef, terumbu karang yang tumbuh sejajar pantai tapi agak lebih jauh ke luar (biasanya dipisahkan oleh sebuah laguna) yang biasa disebut sebagai barrier reef dan terumbu karang yang menyerupai cincin di sekitar pulau vulkanik yang disebut coral atoll. | BY Peachock